Budaya Dan Karifan lokal di Sumenep untuk sumenep di masa depan

0 komentar
Sejenak kata Sumenep sudah akrab terdengar di telinga kita. Yap benar , Sumenep adalah salah satu dari empat Kabupaten di Pulau Madura. Sumenep merupakan Kabupaten paling timur atau bisa disebut batas timur Pulau Madura. Bicara tentang Batas berarti berkaitan dengan lautan, karena 70 % daerah Indonesia terdiri dari lautan, jadi di Kabupaten Sumenep juga kita dapat menemukan lautan-lautan yang terhampar luas. Kabupaten yang memiliki luas wilayah 2.093,45 km² dan populasi ±1 juta jiwa in, juga merupakan Kabupaten yang terkenal memilik beragam Budaya, dan kearifan local lainnya. Bicara tentang Budaya dan kearifan lokal yang ada di Sumenep itu sangatlah banyak sekali. Baik itu yang merupakan warisan turun-temurun atau kekayaan alam yang ada di sekitar Kabupaten Sumenep.
Saat sekarang, Kabupaten Sumenep tidaklah begitu berkembang. Karena Masyarakat Sumenep kurang pintar dalam mengelolah budaya, dan kearifan local yang mereka punya. Sumenep di Masa depan akan lebih maju dan berkembang jika masayarakatnya lebih pintar dalam mengelolah keayaan dan kerifan local yang ada.
Untuk Sumenep masa depan yang lebih cerah, kita harus membenahi aspek-aspek yang ada di dalamnya. Aspek yang juga bisa memberikan kesempatan Bagi Sumenep untuk menggapai masa depan yang lebih baik lagi. Aspek itu diantaranya adalah : Aspek Ekonomi, Pendidikan, Sosial, Budaya, Politik, dan yang terakhir adalah Aspek Agama.
Aspek pertama yaitu Aspek Ekonomi . Sumenep dalam hal mengembangkan daerahnya di bidang ekonomi. Selama ini, Sumenep Dalam hal pendapatan daerah bisa dikatakan masih dibawah standart. Hal itu karena, Masyarakat Sumenep kurang terampil dalam mengelolah potensi-potensi yang ada di daerah Sumenp sendiri . Hal yang dapat di lakukan adalah. Dari data yang ada Sumenep merupakan Kabupaten yang memiliki income terbesar di Pulau Madura. Hal ini karena Sumenep memilki daerah sumber gas dan minyak yang cukup besar yang ada di Pulau Pagerungan. Nah, hal itu menjadi kesempatan besar bagi Kabupaten Sumenep dalam memperbaiki keadaan ekonomi yang semakin hari-semakin menurun. Selain dalam hal perminyakan Sumenp unggul juga dalam hal peternakan. Dikatakan demikian karena Sumenep memiliki Sapi khas yang merupakan sapi terbaik se-Indonesia. Karenakualitas daginggnya yang bagus, Sapi ini banyak di ekspor ke luar daerah. Tapi Jumlah pengeksporannya dibatasi dan hanya sapi jantan yang boleh di ekspor. Hal ini karena Sapi Madura Hanya boleh di ternakkan di wilayah Madura. Nah, dua hal ini yang akan mmeberikan peluang besar bagi Sumenep dalam hal ekonomi. Hal ini juga bisa kita lihat dari Adanya Jembatan Suramadu. Jembatan ini harusnya mempermudah aktivitas ekonomi dari pualu garam ini.
Yang kedua dalam Aspek Pendidikan. Pendidikan itu sangatlah penting. Tapi masyarakat Sumenep masih banyak yang beranggapan pendidikan itu tidak penting. Mereka hanya berfikir kalo kita sekolah itu hanya untuk menghabiskan uang. Pernyataan ini harus segera di tepis karena bagaimanapun juga semua orang butuh ilmu yang di dapat dari pendidikan unhtuk membangun hidup, dan daerahnya. Diakaui atau tidak Kabupaten Sumenep merupakan Kabupaten yang tingkat pendidikannya lebih rendah di bandingkan dengan 3 kabupaten di Madura. Tapi sedikit demi sedikit Sumenep memnepisnya dengan bermunculannya sekolah-sekolah RSBI hingga SBI yang merupakan standart Internasional. Hal ini menunjukkan semakin baiknya pendidikan di Sumenep, Tapi kendalanya adalah di bidang ekonomi atau pembiayaan Pantas saja mereka berfikir pendididan itu tidak penting karena hanya orang-orang yang berduit yang mendapatkan pendidikan yang baik.
Yang ketiga Aspek Soosial-Budaya , dalam hal seari-hari MAsyarakat Sumenep merupakan masyarakat yang halus tuutur katanya dazn lemah lembut. Hal ini karena masih terpengaruhnya budaya keratin Jawa. Sedangkan dalam aspek Budaya banyak sekali budayabudaya yang dapat mendukung kemajaunKAbupaten Sumenep kedepannya. Sperti contoh tari muang sangkal Topeng dhalang yang sering dipentaskan di luar daerah. Baru-baru ini kabupaten Sumenep mengutuskan delegasinya ke Jakarta untuk pementasan Budaya. Yakni pementasan tari muang sangkal, Ul-daul dan Orkes dangdut Yu dewi. hal ini sangat bagus sebgai langkah utama menembus internasioal. Budaya ini tak hanya mencakup seni pementas. Sumenep tourism object juga merupakan budaya yang wajib lestarikan. Contohnya tempat wisata yang belum disentuh oleh tangan pemerintah (Tanah Kapor, Pantai Badur, Pantai Ponjuk). Semua object wisata itu akan menambah devia bagi kabupaten Sumenep.
Dalam Aspek agama masyarakat Sumenep masih bisa diktakan kuat iman , dalam menghadapi tantang dunia global. Mulai dari pembangunan Jembatan SuraMadu masyarakat Sumenep lebih gencar dalam hal memperkuat Iman.
Satu Aspek lagi dalam hal ini adalah Kebersihan, dan tata Kota. Sumenep sejak tahun 2008 sudah mendapat pengghargaan Adipura oleh pemerintah. Hal ini Karena kebersihan kota Sumenep ini masih terjaga dan asri. Jalanan seputar kota, Taman adipura, dan perkantoran masih indah untuk di pandang mata. Tata Kota Kabupaten Sumenep masih terlihat cukup teratur dengan penataan kota yang sesuai dengan tempatnya. Seperti Pusat perbelanjaan dan pertokoan yang terletak di Pusat Kota.
Baca selengkapnya »

Keperkasaan Sapi Madura

0 komentar
Setiap daerah pasti memiliki budaya masing-masing. Begitu juga dengan pulau Madura. Pulau ini memiliki banyak sekali budaya dan salah satu budaya yang paling banyak dikenal orang luas adalah "kerapan sapi". Ini adalah sedikit informasi tentang kerapan sapi.
Kerapan atau karapan sapi adalah satu istilah dalam bahasa Madura yang digunakan untuk menamakan suatu perlombaan pacuan sapi. Ada dua versi mengenai asal usul nama kerapan. Versi pertama mengatakan bahwa istilah “kerapan” berasal dari kata “kerap” atau “kirap” yang artinya “berangkat dan dilepas secara bersama-sama atau berbondong-bondong”. Sedangkan, versi yang lain menyebutkan bahwa kata “kerapan” berasal dari bahasa Arab “kirabah” yang berarti “persahabatan”. Namun lepas dari kedua versi itu, dalam pengertiannya yang umum saat ini, kerapan adalah suatu atraksi lomba pacuan khusus bagi binatang sapi. Sebagai catatan, di daerah Madura khususnya di Pulau Kangean terdapat lomba pacuan serupa yang menggunakan kerbau. Pacuan kerbau ini dinamakan mamajir dan bukan kerapan kerbau.
Asal usul kerapan sapi juga ada beberapa versi. Versi pertama mengatakan bahwa kerapan sapi telah ada sejak abad ke-14. Waktu itu kerapan sapi digunakan untuk menyebarkan agama Islam oleh seorang kyai yang bernama Pratanu. Versi yang lain lagi mengatakan bahwa kerapan sapi diciptakan oleh Adi Poday, yaitu anak Panembahan Wlingi yang berkuasa di daerah Sapudi pada abad ke-14. Adi Poday yang lama mengembara di Madura membawa pengalamannya di bidang pertanian ke Pulau Sapudi, sehingga pertanian di pulau itu menjadi maju. Salah satu teknik untuk mempercepat penggarapan lahan pertanian yang diajarkan oleh Adi Polay adalah dengan menggunakan sapi. Lama-kelamaan, karena banyaknya para petani yang menggunakan tenaga sapi untuk menggarap sawahnya secara bersamaan, maka timbullah niat mereka untuk saling berlomba dalam menyelesaikannya. Dan, akhirnya perlombaan untuk menggarap sawah itu menjadi semacam olahraga lomba adu cepat yang disebut kerapan sapi.
Macam-macam Kerapan Sapi
Kerapan sapi yang menjadi ciri khas orang Madura ini sebenarnya terdiri dari beberapa macam, yaitu:
1. Kerap Keni (kerapan kecil)
Kerapan jenis ini pesertanya hanya diikuti oleh orang-orang yang berasal dari satu kecamatan atau kewedanaan saja. Dalam kategori ini jarak yang harus ditempuh hanya sepanjang 110 meter dan diikuti oleh sapi-sapi kecil yang belum terlatih. Sedangkan penentu kemenangannya, selain kecepatan, juga lurus atau tidaknya sapi ketika berlari. Bagi sapi-sapi yang dapat memenangkan perlombaan, dapat mengikuti kerapan yang lebih tinggi lagi yaitu kerap raja.
2. Kerap Raja (kerapan besar)
Perlombaan yang sering juga disebut kerap negara ini umumnya diadakan di ibukota kabupaten pada hari Minggu. Panjang lintasan balapnya sekitar 120 meter dan pesertanya adalah para juara kerap keni.
3. Kerap Onjangan (kerapan undangan)
Kerap onjangan adalah pacuan khusus yang para pesertanya adalah undangan dari suatu kabupaten yang menyelenggarakannya. Kerapan ini biasanya diadakan untuk memperingati hari-hari besar tertentu.
4. Kerap Karesidenen (kerapan tingkat keresidenan)
Kerapan ini adalah kerapan besar yang diikuti oleh juara-juara kerap dari empat kabupaten di Madura. Kerap karesidenan diadakan di Kota Pamekasan pada hari Minggu, yang merupakan acara puncak untuk mengakhiri musim kerapan.
5. Kerap jar-jaran (kerapan latihan)
Kerapan jar-jaran adalah kerapan yang dilakukan hanya untuk melatih sapi-sapi pacuan sebelum diturunkan pada perlombaan yang sebenarnya.

Pihak-pihak yang Terlibat dalam Permainan Kerapan Sapi
Kerapan sapi adalah salah satu jenis permainan rakyat yang banyak melibatkan berbagai pihak, yang diantaranya adalah:
(1) pemilik sapi pacuan;
(2) tukang tongko (orang yang bertugas mengendalikan sapi pacuan di atas kaleles);
(3) tukang tambeng (orang yang menahan tali kekang sapi sebelum dilepas);
(4) tukang gettak (orang yang menggertak sapi agar pada saat diberi aba-aba dapat melesat dengan cepat);
(5) tukang tonja (orang yang bertugas menarik dan menuntun sapi); dan
(6) tukang gubra (anggora rombongan yang bertugas bersorak-sorak untuk memberi semangat pada sapi pacuan).
Jalannya Permainan
Sebelum kerapan dimulai semua sapi-kerap diarak memasuki lapangan. Kesempatan ini selain digunakan untuk melemaskan otot-otot sapi, juga merupakan arena pamer keindahan pakaian dan hiasan dari sapi-sapi yang akan dilombakan. Setelah parade selesai, pakaian dan seluruh hiasan itu mulai dibuka. Hanya pakaian yang tidak mengganggu gerak tubuh sapi saja yang masih dibiarkan melekat.
Setelah itu, dimulailah lomba pertama untuk menentukan klasemen peserta. Seperti dalam permainan sepak bola, dalam babak ini para peserta akan mengatur strategi untuk dapat memasukkan sapi-sapi pacuannya ke dalam kelompok “papan atas” agar pada babak selanjutnya (penyisihan), dapat berlomba dengan sapi pacuan dari kelompok “papan bawah”.
Selanjutnya adalah babak penyisihan pertama, kedua, ketiga dan keempat atau babak final. Dalam babak penyisihan ini, permainan memakai sistem gugur. Dengan perkataan lain, sapi-sapi pacuan yang sudah dinyatakan kalah, tidak berhak lagi ikut dalam pertandingan babak selanjutnya. Sedangkan, bagi sapi pacuan yang dinyatakan sebagai pemenang, nantinya akan berhadapan lagi dengan pemenang dari pertandingan lainnya. Begitu seterusnya hingga tinggal satu pemain terakhir yang selalu menang dan menjadi juaranya.
Nilai budaya
Permainan kerapan sapi jika dicermati secara mendalam mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai itu adalah: kerja keras, kerja sama, persaingan, ketertiban dan sportivitas.
Nilai kerja keras tercermin dalam proses pelatihan sapi, sehingga menjadi seekor sapi pacuan yang mengagumkan (kuat dan tangkas). Untuk menjadikan seekor sapi seperti itu tentunya diperlukan kesabaran, ketekunan dan kerja keras. Tanpa itu mustahil seekor sapi aduan dapat menunjukkan kehebatannya di arena kerapan sapi.
Nilai kerja sama tercermin dalam proses permainan itu sendiri. Permainan kerapan sapi, sebagaimana telah disinggung pada bagian atas, adalah suatu kegiatan yang melibatkan berbagai pihak. Pihak-pihak itu satu dengan lainnya saling membutuhkan. Untuk itu, diperlukan kerja sama sesuai dengan kedudukan dan peranan masing-masing. Tanpa itu mustahil permainan kerapan sapi dapat terselenggara dengan baik.
Nilai persaingan tercermin dalam arena kerapan sapi. Persaingan menurut Koentjaraningrat (2003: 187) adalah usaha-usaha yang bertujuan untuk melebihi usaha orang lain dalam masyarakat. Dalam konteks ini para peserta permainan kerapan sapi berusaha sedemikian rupa agar sapi aduannya dapat berlari cepat dan mengalahkan sapi pacuan lawan sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu, masing-masing berusaha agar sapinya dapat melakukan hal itu sebaik-baiknya. Jadi, antarpeserta bersaing dalam hal ini.
Nilai ketertiban tercermin dalam proses permainan kerapan sapi itu sendiri. Permainan apa saja, termasuk kerapan sapi, ketertiban selalu diperlukan. Ketertiban ini tidak hanya ditunjukkan oleh para peserta, tetapi juga penonton yang mematuhi peraturan-peraturan yang dibuat. Dengan sabar para peserta menunggu giliran sapi-sapi pacuannya untuk diperlagakan. Sementara, penonton juga mematuhi aturan-aturan yang berlaku. Mereka tidak membuat keonaran atau perbuatan-perbuatan yang pada gilirannya dapat mengganggu atau menggagalkan jalannya permainan. Dan, nilai sportivitas tercermin tidak hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang saat berlangsungnya permainan, tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang dada.


Tulisan ini diambil dari :
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1991. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara II. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Baca selengkapnya »

Gemulainya Sapi Madura

0 komentar
Di Madura banyak bentuk dalam melestarikan budaya. Salah satunya sapi sono atau kontes kecantikan sapi betina. Sebagian besar masyarakat Pulau Garam menganggap sapi adalah bagian dari budaya. Karena itu pula setahun sekali diadakan event besar di sana. Yaitu sapi sono dan karapan sapi. Kendati demikian, pada umumnya orang lebih mengenal karapan sapi daripada sapi sono. Padahal, kontes sapi betina ini juga termasuk salah satu warisan budaya.
Menariknya pada ajang sapi sono ini, 24 pasang sapi-sapi betina dari berbagai umur, dihias bak ratu kecantikan dengan dandanan menarik. Mulai dari kain beludru merah dan juga kuning, kayu ukir bentaos dari Karduluk (sentra ukiran Sumenep), juga tak ketinggalan kelintingan (bebunyian). Semua dipersiapkan para tongkok (joki, red), guna menambah indah suasana saat sapi sono melintas di atas catwalk sepanjang 25 meter. Tak hanya itu yang dilakukan. Dalam pertunjukan sapi sono selalu dipadukan dengan iringan kesenian musik saronenan. Sebuah musik khas Madura yang di antaranya terdiri atas bunyi-bunyian selompret dari kayu jati.
Iringan musik saronen inilah menambah menariknya suasana sapi sono. Sehingga tidak hanya sapi yang dihias seperti pengantin, tetapi kelompok pemusik saronen juga dihias dengan seragam warna-warni.

Spontan di pinggir lintasan, ratusan penonton bersorak-sorai, adapula yang menyiuli sapi sono yang melintas dihadapan mereka. Meskipun panas mentari yang begitu menyengat tepat di atas kepala, namun tak mudah menyurutkan semangat. Di balik penonton yang nampak bersemangat. Para peserta pun terlihat cukup antusias pada event sapi sono. Terbukti, sejak satu hari sebelum acara digelar di Lapangan Bakorwil IV Kabupaten Pamekasan, mereka sudah berdatangan dari berbagai daerah di Madura. Seperti Bangkalan, Sampang, Pamekasan, hingga Sumenep.
Seperti yang diakui M. Aziz, 46 tahun, pemilik sapi sono bernama Artis Safari. “Karena sapi sono termasuk salah satu budaya yang harus dijaga, maka sudah dua hari sebelum pelaksanaan saya sudah datang kemari,” ujar peserta asal Desa Dukabu, Kecamatan Abunten, Kabupaten Sumenep itu.
Kesopanan
Tak begitu populer bagai karapan sapi. Tetapi yang suka bukan kepalang banyaknya. Semua tertarik jika tak ikut serta dalam kontes kecantikan sapi betina ini. Bagi sapi betina milik siapapun, dan dinilai paling cantik. Baik itu meliputi gerakan, busana, penampilan, maupun iringan musik saronen. Sang pemilik merasakan sebuah simbol kesopanan dan keberhasilan dalam melestarikan budaya. Karena sapi adalah budaya besar bagi masyarakat Madura.

Sedangkan pengertian dari sapi sono berasal dari bahasa Madura. Bila mengambil kata sono, berasal dari kata srono’, yang artinya masuk. Masuk di sini adalah berkaitan dengan awal mula budaya ini, yang kerap digunakan menyambut tamu yang datang di rumah warga Madura. Namun, konon pula menurut sejarahnya sapi sono masih terkait dengan karapan sapi. Yaitu muncul sebuah keinginan dari sebagian masyarakat Madura, yang menginginkan adanya hiburan dalam menghadapi musim tanam tembakau. “Karena Madura banyak terdapat pertanian tembakau, maka sebelum musim tanam mereka butuh hiburan rakyat hingga terlahir karapan sapi dan sapi sono,” papar Ali Mulyono, staf Badan Koordinasi Wilayah IV Pamekasan. Ali juga menambahkan, jadi di Madura tidak cukup hanya menggunakan sapi jantan sebagai hiburan, seperti di karapan sapi. Melainkan juga menggunakan sapi betina sebagai bentuk sarana hiburan, seperti di sapi sono.
Sedangkan menurut Munasik, 28 tahun, Ketua paguyuban sapi sono Batu Marmar, Pamekasan, menjelaskan, dalam sapi sono menyimbolkan sebuah kesopanan dalam bertingkah laku. “Ini terlihat dari penampilan setiap pasang sapi yang nampak anggun, bersih, dan selaras,” tambahnya pada EastJava Traveler. Karena simbol dan makna itulah, kata Munasik lagi, sejak sekitar tahun 1970-an di Madura, sapi sono mulanya digunakan sebagian masyarakat untuk penyambutan tamu dalam berbagai acara. Misal saja acara pernikahan, ataupun khitanan. Sehingga bisa jadi sapi sono, sekaligus juga sebagai bentuk rasa syukur masyarakat Madura kepada Sang Pencipta. Kehadiran sapi sono bisa menjadi local genius berharga dalam memperkaya warisan budaya nenek moyang Madura.
Harus Dimanja

Istimewa memang sapi-sapi betina ini. Tidak seperti sapi-sapi pada umumnya yang digunakan membajak di ladang persawahan. Sapi betina untuk sapi sono harus mendapatkan perhatian ekstra dari empunya. Seakan tak peduli, jutaan rupiah dikeluarkan demi menghasilkan sebuah sapi betina yang cantik nan gemulai. Untuk makan saja terkadang harus disuapi. Belum lagi makanan yang diberikan tidak asal-asalan. Itu masih belum dilihat dari komposisi ramuan jamu yang harus diminummnya setiap hari.
Hal lainnya sapi betina untuk sapi sono, seluruh bulu di badannya harus dipotong pendek dan rapi. Bahkan untuk memandikannya harus di pandokan (tempat khusus untuk memandikan sapi), dengan diberi sabun pelembut bulu dan seluruh badan juga harus dipijat. Sang pemilik sapi seakan tak salah bila memperlakukan sapi secara istimewa. Karena prestasi yang diraih akan memberikan sesuatu yang lebih. “Bukan saja pada kesenangan tetapi juga pada kebanggaan,” ujar M. Tholha, pemilik sapi sono asal Sampang. Menurutnya lagi bagi sapi sono yang dinilai paling menarik, mampu mengangkat pamor sang pemilik.
Penuturan Tholha, dalam perawatan dirinya memberikan suplemen dan ramuan jamu khusus guna menjaga stamina. Dan makanan tambahan selain rumput, pada sapi sono juga diberikan 2 butir telur ayam kampung setiap hari. Namun mendekati satu minggu sebelum event biasanya komposisi ini ditingkatkan, hingga dua kali lipat. Tidak sampai di situ saja untuk memanjakan sapi sono. Beberapa pemilik sapi sono mengaku, berani membayar orang (joki) untuk merawat sapi betina itu secara khusus setiap hari.
Joki sapi sono ini tidak sekedar bertugas memberikan perhatian lebih pada kondisi tubuh sapi. Melainkan juga melatih keselarasan dan gemulai gerakan kaki, yang nanti juga masuk dalam kategori penilaian di catwalk.
Penilaian


Penilaian dewan juri didasarkan pada sejumlah ketentuan yang disepakati bersama sebelumnya. Ketentuan yang harus dilakukan oleh setiap pasang sapi sono di antaranya adalah waktu perjalanan mulai berangkat hingga selesai dalam dua menit, tidak boleh kurang dan tidak boleh melebihi batas.
Jika sepasang sapi sono berjalan kurang dari dua menit sampai selesai atau melebihi batas waktu, dewan juri akan mengurangi lima angka. Setiap kali sepasang sapi sono menyentuh garis lintasan, juri berhak memberi sanksi pengurangan lima angka. Sementara sapi yang berbalik arah dinyatakan gagal atau didiskualifikasi.
Penilaian terbaik diberikan pada sepasang sapi yang berjalan lurus serasi antar gerakan kaki. Setelah itu sepasang sapi harus naik panggung yang terbuat dari papan, dengan menginjakkan dua kaki depannya di atas papan. Tepat di bibir papan kayu, dua kaki depan sepasang sapi harus serasi diam menunggu penilaian dewan juri. Bila kaki tidak pas menginjak papan panggung, penilaian bisa berkurang. Begitu pun jika sepasang kaki depan sapi bergerak-gerak tidak tenang, penilaian juga akan berkurang. Namun, dalam event sapi sono semua peserta berhak mendapatkan penghargaan dari panitia. Hal ini sangat berbeda dengan event karapan sapi, penghargaan hanya diberikan pada satu pemenang saja.
http://www.eastjavatraveler.com/?p=212
Baca selengkapnya »

saronen

0 komentar
Saronen telah di anggap oleh orang Madura maupun non-Madura (misal nya Jawa) sebagai intrumen yang telah memberikan pada sebuah orkes yang menggunakan instrumen itu sebagai alat utama.Sebenarnya instrumen itu di temukan pula di daerah lain,misal nya di tanah Pasundan dan di Sumatra.ia di anggap ciri khas kebudayaan Madura barangkali karena selalu mengiringi acara kerapan sapi yang sedemikian penting di dalam pembentukan citra Madura di luar pulau itu sendiri.
Alat musik jenis Hobo itu berasal dari Timur Tengah di daerah asalnya di kenal dengan berbagai nama ( surnai,sirnai,sarune,shanai,dsb ).nama umum yang lain selompret,serompet atao sompret,saronen atau serunen untuk Jawa Jimur atau Madura dan tetepret untuk banyumas,tarompet untuk Tanah Pasundan,pereret untuk Bali serta pletret dan gempret untuk jaman Hindu di Jawa.
Selompret berasal dari kebudayaan Arab-Persia (surnai, yang umumnya yang menjadi serunai di Nusantara,khusus nya di Sumatra atau saronen di Madura dan Jawa timur),tetapi seperti yang telah di buktikan dengan ada nya selompret di Jawa pada jaman Hindu juga di bali dan di tanah Batak, alat itu diterima oleh beberapa suku bangsa Non-muslim di Nusantara.
Instrumen itu berbentuk kerucut dari bahan kayu jati dengan enam lubang berderet di depan dan satu lubang di belakang.Sebuah gelang kecil yang terbuat dari kuningan (Konengan : Madura)
mengaitkan bagian bawah dengan bagian atas yang terbuat dari baja tahan karat (pesse pote). Ujung nya (rakara) terbuat dari kayu siwalandan menjepit lidah ganda nya (pepet) dari sepat atau dari daun pohon siwalan (tarebung) pada pangkal di tambah sebuah sayap yang terbuat dari tempurung kelapa (petok) yang tampak sepeti pemain pada pemain yang sedang meniupnya.

Di Madura orkes saronen di kaitkan dengan sapi ( pada waktu karapan sapi atau pada pertandingan kecantikan sapi betina)dengan kuda (untuk upacara ritual di makam keramat atau untuk pesta perkawinan),dengan beberapa acara ritual tertentu (klono')
Baca selengkapnya »

Batik in culture

0 komentar
Keberadaan Kabupaten Sumenep dikatakan sebagai benteng budaya Madura, hal ini bisa kita lihat dari sisa-sisa kebesaran kerajinan Sumenep yang berjejak pada sejumlah bangunan-bangunan kuno dan kerajinan rakyat. salah satunya adalah Batik Tulis Sumenep. Keberadaan batik Tulis Sumenep sudah ada sejak lama sama halnya dengan beberapa tempat yang menjadi pusat kerajinan batik tradisional seperti di pulau Jawa, Cirebon, Garut, Solo dan Yogyakarta, Pekalongan, Pacitan juga Palembang dan Jambi.
Batik Madura tumbuh seiring perkembangan kerajaan Sumenep pada abad ke 17 sampai dengan abad 18M. Kerajaan Sumenep berakhir pada 1926-1929 di bawah kekuasaan Ario Prabuwinoko. Setelah itu pemerintahan Sumenep dipinpin oleh seorang Bupati. Perpindahan Administrasi dari kerajaan menjadi Kabupaten tidak berpengaruh terhadap keberadaan Batik Tulis Sumenep.
Sekitar tahun 1960-1965 hampir semua pembatik terutama tidak lagi berproduksi. Hal ini disebabkan oleh adanya resesi ekonomi yang melanda negara. Pada tahun 1970 Pembatik mulai aktif kembali. Pada saat itu salah seorang warga Sumenep yang sangat peduli dengan Batik Tulis meneruskan usaha dari orang tuanya. Dan pada tahun 1977 beliau mengembangkan usaha batik tulis sumenep. Dan berkembanglah usaha batik ini sampai sekarang.
Adapun cara pembuatan Batik Tulis Madura yaitu :
1. Abatik ( membuat pola diatas kain)
2. Nyelot (memberi warna pada bagian-bagian tertentu)
3. Nutup (menutup warna yang dicolet dengan lilin malan)
4. Ndasari (mencelup latar pola dengan warna)
5. Menutup dasaran (menutup bagian latar pola yang sudah diwarnai)
6. Medel (Mencelup dengan warna biru)
7. Ngelorot (Membilas dengan air mendidih)
8. Nutup ke dua (menutup yang berwarna putih)
9. Nyoga (mencelup warna soga)
10. Kembali ke Ngelorod
11. Lalu Jemur
Didalam melakukan usaha produksinya didukung oleh tenaga kerja sebanyak 35 orang yang telah mahir dan sudah mengikuti pelatihan.
Batik Tulis Sumenep ini mempunyai ciri khas yaitu motif Ayam dan warna merah yang menjadi ciri khas batik Madura pada umumnya. Sedangkan untuk bahan pewarnanya terdiri dari 2 macam yaitu: Bahan Pewarna sintesis/kimia dan bahan pewarna alami seperti dari Mohani akasia daun jati dan lain-lain. Adapun harga sangat bervariasi tergantung pada pengerjaannya dan kain yang digunakan.
Baca selengkapnya »

Tanjung,Saronggi

1 komentar
Salah satu tempat wisata yang wajib dan kudu dikembangkan adalah Pantai Tanjung yang letaknya di Saronggi. Pantai ini memilki keindahan yang sangat mendalam. Sebuah potret keagungan Tuhan dalam menciptakan ciptaannya. Di pantai ini juga terdapat sebuah mercusuar yang berdiri kokoh tegak menantang langit. Di duga mercusuar ini peninggalan dari para tentara belanda. Bagi masyarakt sumenep kita wajib untuk berkunjung kesana… selamat



berkunjung 
Baca selengkapnya »

Tanah Kapor

0 komentar
Sebelum Kita sampai di Pantai Badur , Di Selatan jalan kita bisa melihat pemndangan yang begitu indah. Orang-orang sekita menyebutnya dengan “Tanah Kapor”. Yap, seperti namanya, di wilayah ini tanhanya tidar berwarna hitam lagi melainkan putih. Mengapa demikian karena di wilayah ini merupakan daerah penambangan batup kapur atau kata masyarakat sekita batuh putih.
Kita di sini dapat melihat maha karya Allah S.W.T yang maha agung . Tembok-tembok putih berdirih menantang langit. Batu karang besar menjadi pembtasnya.
Baca selengkapnya »
 

Copyright © 2010 • TRY TO THE BEST • Design by Dzignine